20120412

Edi -75 tahun, Veteran Perang Timor Timur dengan 5-istri dan 22 anak, semua RUKUN!

Pria kelahiran Bandung 22 Februari 1938 ini mengaku, selamat dan tetap hidup sehat setelah melewati beberapa tugas Negara; menumpas DI/TII, Permesta, dan RMS - serta 3kali tugas di Timor-Timur, karena tak pernah mengganggu Wanita, dan tak pernah mencuri Harta Ghanimah!


Tubuhnya jangkung, penampilan fisiknya masih gagah, lelaki yang hoby olahraga bulutangkis serta volley-ball ini, kini-ditahun 2012 , masih bekerja sebagai SATPAM disebuah toko meubel dan di sebuah Bank terkenal.

 
Mengaku tak pernah kecanduan minuman keras, tapi EDI pernah memenangkan pertandingan “kuat-kuatan” menenggak alkhohol- antar batalyon tentara, saat bertugas di Jakarta.
Edi & Kukuh di Sekretariat LPM Bogor April 2012
Di tahun 1962, Edi terpilih masuk jajaran Elite Militer- CAKRABIRAWA, sebagai Pengawal Presiden Soekarno di Jakarta. 


Namun, ketika konflik Indonesia-Malaysia- memanas di awal tahun 1960-an itu, Edi ditugaskan menyusup sebagai Mata-2 ke Malaysia.


Ketika regunya terjebak oleh tentara diraja Malaysia, Edi memilih maju untuk ditangkap, dan menyuruh teman-teman tentara lainnya mundur mengatur strategi. 

 
Edi memilih ditangkap, karena yakin bisa melarikan diri dari Penjara Malaysia, dan demi menyelamatkan teman-teman tentara lainnya, yang dalam hitungan Edi, belum tentu bisa lolos- jika dijebloskan ke penjaranya Tengku Abdul Rahman, Perdana Menteri Malaysia ketika itu.

Buah dari keberaniannya itu, Edi ditangkap dan disiksa di Bui Malaysia, semua kuku jari kakinya dicabut oleh tentara Malaysia. Saat menunjukkan bukti kekejaman tentara diraja Malaysia, dengan membuka kaos kakinya, nampak tiga jari kakinya juga putus. 

Tapi, cacat yang belakangan itu, terjadi setelah tugas di Timor Timur. 

Bekas anak buah Yogi S Memet- Gubernur Jabar, dan Jendral Surjadi Sudirja-Mendagri, ini, memiliki hoby lainya, yakni; MANCING! Setiap ada waktu luang, pas ada kesempatan lomba mancing yang ada hadiahnya, EDI berusaha mendaftar dan mengikutinya.

Edi menunjukkan kuku kakinya yg dicabuti ttr  malaysia
Ketika berkunjung ke kantor LPM Kabupaten Bogor, awal April 2012, Edi tertarik melihat prestasi orang-orang yang usianya diatas 70 tahun, sampai diatas 100 tahun, namun masih sehat, kuat, bahagia dan kaya! Harusnya tambah masih Ganteng dan Masih Cantik!
Kebetulan catatan orang-orang PANJANG UMUR Sehat dan Kaya, dari seluruh dunia-  itu sudah banyak yang di arsipkan oleh LPM Kabupaten Bogor, lengkap dengan Film dan resep-2 rahasianya!

Edi berjanji untuk mulai lagi memperbaiki gaya hidup dan pola makan, agar bisa lebih berprestasi dalam dunia kesehatan, olahraga, dan melestarikan sejarah nilai2 kebaikan hidup - untuk anak cucu, Bangsa dan Negara.(nks/12/04/2012)

20120302

Buggy Car , Mobil Esemka dari Bandung


 Tak mau ketinggalan tren mobil nasional, siswa Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 8 Bandung mengumumkan telah membuat lima mobil rakitan sendiri. Berbeda dengan SMK di Surakarta, pelajar Bandung ini membuat buggy car. Komponen lokal mobil pantai dan off-road itu mencapai 75 persen.

Karya pelajar sekolah di Jalan Solontongan, Bandung, itu kini dilirik pejabat daerah setelah mobil Esemka di Surakarta naik daun. “Rencananya Pak Wali Kota atau Wakilnya mau datang ke sekolah melihat proses pembuatannya,” kata Kepala SMKN 8 Bandung Dedi Indrayana kepada Tempo, Kamis, 5 Januari 2012.

Mobil yang dinamai buggy car ABCD alias Anak Bandung Cinta Damai itu berkapasitas 1.500 cc dengan empat silinder dan punya lima jenis kecepatan. Mesin yang cukup besar itu berasal dari mesin bekas mobil Toyota Vios. Sekolah mengimpornya dari Singapura seharga Rp 18 juta per unit. “Di sini dapat mesinnya susah karena mobilnya masih banyak dipakai,” kata Dedi.

Lebar mobil tanpa kaca ini sekitar 1,5 meter dengan panjang 3,5 meter. Hasil modifikasi sekolah mengubah mesin dari penggerak roda depan menjadi penggerak roda belakang. Menurut Dedi, barang impor pada mobil itu hanya mesin. Selebihnya memakai bahan lokal yang dirakit sendiri oleh siswa. “Kalau mesin sekitar 25 persen dari mobil, 75 persennya komponen lokal,” kata dia.

Gagasan pembuatan buggy car berasal dari para guru, alumnus, kepala sekolah, serta orang tua siswa pada 2009. Rangka mobil purwarupanya sempat memakai pipa bekas. Proses awal makan waktu agak lama, sehingga mobil baru jadi setelah enam bulan bulan. Itu karena mencari pola dan desain mobil yang cocok dan sesuai dengan standar. “Sengaja tidak membuat mobil umum agar karya siswa tidak menabrak regulasi (mobil) yang ada,” katanya.

Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat Wahyudin Zarkasi mengatakan sekolah-sekolah menengah kejuruan di Jawa Barat sudah sanggup merakit berbagai kendaraan. Selain buggy car, SMKN 3 di Kabupaten Kuningan juga telah berhasil membuat purwarupa angkutan kota dan telah bekerja sama untuk pemakaiannya dengan koperasi angkutan kota setempat. Adapun SMKN 12 Bandung sanggup merakit pesawat J430 buatan Australia.

Soal kemungkinan tumbuhnya industri angkutan dari sekolah-sekoleh kejuruan di Indonesia, kata Wahyudin, diperkirakan bakal sulit. Selain perlu ratusan insinyur untuk sebuah industri, regulasi yang berlaku juga menjadi ganjalan berat. Ia berharap industri kendaraan darat dan udara itu dibuka oleh perusahaan-perusahaan Badan Usaha Milik Negara.

Sumber daya dan kemampuannya, ujar Wahyudin, bisa berasal dari lulusan SMK yang kini telah banyak dilamar industri otomotif dalam negeri. “Sekarang jangan bilang karya anak SMK itu nggak layak, tapi harus dibantu,” katanya. Sumber: www.tempo.co

MS Hidayat : Esemka Picu Lahirnya Mobil Nasional

Jakarta - Menteri Perindustrian M.S. Hidayat mengapresiasi mobil Esemka hasil karya siswa SMK 2 dan SMK Warga Surakarta, Solo, Jawa Tengah. Mobil rakitan anak bangsa itu menjadi pemicu untuk menghasilkan mobil nasional.
Menurutnya, ini refleksi keinginan bangsa melahirkan mobil nasional. "Di Orde Baru kan gagal, saya tidak ingin yang ini gagal," kata Hidayat di Istana Negara, Jakarta, Kamis 5 Januari 2012.

Hidayat lantas bercerita, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pernah berpesan kepadanya untuk melahirkan mobil nasional semasa ia menjabat sebagai Menteri Perindustrian. Kementeriannya telah membuat beberapa prototipe yang disebut low price green car. Ini adalah mobil niaga untuk pedesaan dan petani, yang prototipe dan ketangguhan mesinnya sudah jadi, dan sekarang sedang dalam tahap uji coba kelayakan. "Beberapa teman swasta bikin namanya Gea, Tawon, dan sebagainya," ujar Hidayat.

Untuk mewujudkan pembuatan mobil nasional tentu membutuhkan industri pendukung berupa industri komponen penunjang, seperti bengkel, purnajual, outlet, dan lain sebagainya. Nah, kata Hidayat, secara teknologi sudah dinilai baik dari Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perhubungan, sehingga bisa turun ke jalan. "Nanti Menteri Perindustrian akan menyopir mobil itu sebagai simbol ini bisa dilakukan," ujarnya.

Tapi untuk meningkatkan industri mobil nasional ini tentu saja bakal butuh kapital yang cukup besar karena padat karya, padat modal, dan padat teknologi. Hidayat menambahkan, Indonesia sudah punya pengalaman 30 tahun di perakitan, jadi industri motor sudah waktunya dilahirkan. Apalagi saat ini produksi kandungan dalam negeri sudah mencapai 80-85 persen.
Bekas Ketua Kadin ini juga menyatakan dukungannya kepada Wali Kota Surakarta Joko Widodo yang menjadikan mobil Esemka sebagai mobil dinas. Soalnya tindakan Jokowi mendukung lahirnya industri mobil nasional. (Sumber: id.berita.yahoo.com)

Pemerintah Diminta Dukung Esemka


Jokowi memang optimistis Esemka bakal bisa segera diproduksi dan bisa menjadi mobil nasional. Namun pemerintah diingatkan untuk tidak mengeluarkan kebijakan kontraproduktif yang akan membunuh industri mobil nasional itu.
Hal itu diingatkan oleh Roy Suryo dalam sebuah diskusi bersama Jokowi dan Kepala SMK 2 Solo, Susanta, yang digelar di Wisma Antara, Sabtu (25/2) sore. Roy mengingatkan hal itu karena ada indikasi beberapa pihak mengeluarkan pernyataan seperti itu. “Misalnya ada yang bilang kalau mobil Esemka ini sebaiknya hanya untuk praktik siswa saja, ini pernyataan yang salah,” kata Roy.
Menurut Roy, selama ini pemerintah Indonesia selalu memiliki pandangan berbeda-beda tentang program mobnas. Misalnya proyek mobil Timor yang mirip dengan proses yang terjadi di Proton Malaysia. Sayangnya, Proton memiliki rekanan yang lebih jujur dan benar-benar terjadi alih teknologi. Sedangkan Timor tidak berkembang karena hanya mengikuti produksi yang dilakukan di Korea saja.
“Sementara Perkasa benar-benar layak jadi mobnas. Tapi pada saat itu Perkasa malah dihajar dengan kebijakan program truk bekas. Ini yang jangan sampai terjadi lagi.”
Kini Indonesia punya kesempatan untuk memulai program mobnas melalui Esemka. Roy sendiri mengajak masyarakat agar memantau komisi V DPR RI yang berencana membuat Panitia Kerja Mobil Nasional.
Dia juga menyayangkan adanya pernyataan bahwa mesin Esemka adalah buatan China. Ini adalah kabar yang menyesatkan mengingat blok mesin Esemka saat ini dibuat oleh usaha cor logam di Ceper dan Purbalingga.
“Jika sampai izin ini keluar, maka sudah tidak perlu lagi Panja. Makanya saya berharap Komisi V tidak masuk angin,” sindir Roy.
Optimistis
Sementara itu Jokowi kembali menegaskan bahwa produksi Esemka tidak butuh modal yang muluk-muluk. Dengan sumber daya dan peralatan yang ada di Solo Techno Park saat ini, dibutuhkan suntikan modal sebesar Rp40 juta. “Jadi bukan triliunan sudah jadi lah. Makanya kami berharap pemerintah pusat mau memberi suntikan dana,” kata Jokowi.
Namun jika tidak ada dukungan dari pemerintah pusat, Jokowi sudah menyiapkan alternatif. Pihaknya akan menerima investor yang calonnya saat ini sudah ada tiga pihak, satu koperasi dan dua investor lokal.
Produksi tetap akan dilakukan terbatas maksimal 200-300 unit perbulan. Sementara untuk layanan purna jual, rencananya baru akan dibuka di kawasan Soloraya. Soal keraguan terhadap kelanjutan program ini sebagaimana program mobnas sebelumnya, Jokowi menyatakan sudah menyiapkan sistemnya, yaitu PT Esemka dan Solo Techno Park. “Jadi ini bukan tergantung pada saya lagi.”
Jokowi memang sangat optimistis izin segera keluar setelah uji emisi dilakukan. Selama ini dari 11 kriteria keluarnya izin, hanya satu yang belum terpenuhi yaitu uji emisi.”Saya sangat optimis pemerintah mendukung karena saya sudah dengar suaranya.”(Sumber: www.harianjogja.com)