20120302

MS Hidayat : Esemka Picu Lahirnya Mobil Nasional

Jakarta - Menteri Perindustrian M.S. Hidayat mengapresiasi mobil Esemka hasil karya siswa SMK 2 dan SMK Warga Surakarta, Solo, Jawa Tengah. Mobil rakitan anak bangsa itu menjadi pemicu untuk menghasilkan mobil nasional.
Menurutnya, ini refleksi keinginan bangsa melahirkan mobil nasional. "Di Orde Baru kan gagal, saya tidak ingin yang ini gagal," kata Hidayat di Istana Negara, Jakarta, Kamis 5 Januari 2012.

Hidayat lantas bercerita, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pernah berpesan kepadanya untuk melahirkan mobil nasional semasa ia menjabat sebagai Menteri Perindustrian. Kementeriannya telah membuat beberapa prototipe yang disebut low price green car. Ini adalah mobil niaga untuk pedesaan dan petani, yang prototipe dan ketangguhan mesinnya sudah jadi, dan sekarang sedang dalam tahap uji coba kelayakan. "Beberapa teman swasta bikin namanya Gea, Tawon, dan sebagainya," ujar Hidayat.

Untuk mewujudkan pembuatan mobil nasional tentu membutuhkan industri pendukung berupa industri komponen penunjang, seperti bengkel, purnajual, outlet, dan lain sebagainya. Nah, kata Hidayat, secara teknologi sudah dinilai baik dari Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perhubungan, sehingga bisa turun ke jalan. "Nanti Menteri Perindustrian akan menyopir mobil itu sebagai simbol ini bisa dilakukan," ujarnya.

Tapi untuk meningkatkan industri mobil nasional ini tentu saja bakal butuh kapital yang cukup besar karena padat karya, padat modal, dan padat teknologi. Hidayat menambahkan, Indonesia sudah punya pengalaman 30 tahun di perakitan, jadi industri motor sudah waktunya dilahirkan. Apalagi saat ini produksi kandungan dalam negeri sudah mencapai 80-85 persen.
Bekas Ketua Kadin ini juga menyatakan dukungannya kepada Wali Kota Surakarta Joko Widodo yang menjadikan mobil Esemka sebagai mobil dinas. Soalnya tindakan Jokowi mendukung lahirnya industri mobil nasional. (Sumber: id.berita.yahoo.com)

Pemerintah Diminta Dukung Esemka


Jokowi memang optimistis Esemka bakal bisa segera diproduksi dan bisa menjadi mobil nasional. Namun pemerintah diingatkan untuk tidak mengeluarkan kebijakan kontraproduktif yang akan membunuh industri mobil nasional itu.
Hal itu diingatkan oleh Roy Suryo dalam sebuah diskusi bersama Jokowi dan Kepala SMK 2 Solo, Susanta, yang digelar di Wisma Antara, Sabtu (25/2) sore. Roy mengingatkan hal itu karena ada indikasi beberapa pihak mengeluarkan pernyataan seperti itu. “Misalnya ada yang bilang kalau mobil Esemka ini sebaiknya hanya untuk praktik siswa saja, ini pernyataan yang salah,” kata Roy.
Menurut Roy, selama ini pemerintah Indonesia selalu memiliki pandangan berbeda-beda tentang program mobnas. Misalnya proyek mobil Timor yang mirip dengan proses yang terjadi di Proton Malaysia. Sayangnya, Proton memiliki rekanan yang lebih jujur dan benar-benar terjadi alih teknologi. Sedangkan Timor tidak berkembang karena hanya mengikuti produksi yang dilakukan di Korea saja.
“Sementara Perkasa benar-benar layak jadi mobnas. Tapi pada saat itu Perkasa malah dihajar dengan kebijakan program truk bekas. Ini yang jangan sampai terjadi lagi.”
Kini Indonesia punya kesempatan untuk memulai program mobnas melalui Esemka. Roy sendiri mengajak masyarakat agar memantau komisi V DPR RI yang berencana membuat Panitia Kerja Mobil Nasional.
Dia juga menyayangkan adanya pernyataan bahwa mesin Esemka adalah buatan China. Ini adalah kabar yang menyesatkan mengingat blok mesin Esemka saat ini dibuat oleh usaha cor logam di Ceper dan Purbalingga.
“Jika sampai izin ini keluar, maka sudah tidak perlu lagi Panja. Makanya saya berharap Komisi V tidak masuk angin,” sindir Roy.
Optimistis
Sementara itu Jokowi kembali menegaskan bahwa produksi Esemka tidak butuh modal yang muluk-muluk. Dengan sumber daya dan peralatan yang ada di Solo Techno Park saat ini, dibutuhkan suntikan modal sebesar Rp40 juta. “Jadi bukan triliunan sudah jadi lah. Makanya kami berharap pemerintah pusat mau memberi suntikan dana,” kata Jokowi.
Namun jika tidak ada dukungan dari pemerintah pusat, Jokowi sudah menyiapkan alternatif. Pihaknya akan menerima investor yang calonnya saat ini sudah ada tiga pihak, satu koperasi dan dua investor lokal.
Produksi tetap akan dilakukan terbatas maksimal 200-300 unit perbulan. Sementara untuk layanan purna jual, rencananya baru akan dibuka di kawasan Soloraya. Soal keraguan terhadap kelanjutan program ini sebagaimana program mobnas sebelumnya, Jokowi menyatakan sudah menyiapkan sistemnya, yaitu PT Esemka dan Solo Techno Park. “Jadi ini bukan tergantung pada saya lagi.”
Jokowi memang sangat optimistis izin segera keluar setelah uji emisi dilakukan. Selama ini dari 11 kriteria keluarnya izin, hanya satu yang belum terpenuhi yaitu uji emisi.”Saya sangat optimis pemerintah mendukung karena saya sudah dengar suaranya.”(Sumber: www.harianjogja.com)

Hanya Butuh Dua Pekan Penyempurnaan Esemka Untuk UJI Emisi Ulang


Walikota Solo, Joko Widodo dan Wakil Walikota, FX Hadi Rudyatmo tetap yakin dan percaya mobil Esemka akan lulus uji emisi berikutnya yang dijadwalkan kembali dalam waktu dekat ini. Menurut keduanya, hanya butuh waktu maksimal dua pekan untuk melakukan penyempurnaan pada saluran gas buang.
Hal tersebut disampaikan Jokowi dan Rudy secara terpisah kepada wartawan di Balaikota, Jumat (2/3/2012). Jokowi bahkan menegaskan tidak perlu ada pengujian oleh lembaga penguji independen untuk mencari second opinion atau pandangan alternatif.
“Kami tetap percaya dengan hasil kemarin. Itu kan hanya perlu perbaikan sedikit, diperbaiki catalytic converter-nya. Saya kira dua pekan lagi mestinya sudah selesai perbaikannya dan bisa diberangkatkan lagi untuk uji emisi,” ujar Jokowi.
Ditanya apa ada upaya mendatangkan teknisi atau mekanik ahli dari luar, Jokowi mengatakan saat ini sudah ada supervisi dari orang Jerman. Namun orang itu bukan dari pabrikan otomotif seperti yang dijanjikan sebelumnya oleh perwakilan Kedutaan Besar RI di Berlin yang datang ke Solo beberapa waktu lalu.
Sementara itu, Wawali, Rudy bahkan lebih optimistis lagi perbaikan itu tidak akan makan waktu sampai dua pekan. “Wong itu tinggal memperbaiki klepnya, lalu voltase lampunya ditambah juga beres kok. Bahkan converter pun sepertinya tidak perlu. Tidak sampai dua pekan pasti sudah beres,” katanya.
Selanjutnya, Rudy mengaku hanya berharap pemerintah pusat bersedia melakukan pendampingan dalam setiap proses yang harus dijalani mobil Esemka. Rudy pun mengatakan seandainya uji berikutnya gagal lagi, pihaknya tidak akan berhenti berjuang sampai benar-benar lulus. “Tapi untuk selanjutnya mestinya yang lebih aktif bergerak adalah dari PT SMK (Solo Manufaktur Kreasi-red). Kami kan sudah membukakan jalan dan melakukan pendampingan,” kata Rudy.(Sumber: www.harianjogja.com)

UMS Siap Jadi Tim Pendamping Esemka


Universitas Muhammadiyah Surakarta siap menjadi tim pendamping untuk memperbaiki mobil Esemka agar lolos uji emisi, jika ditunjuk Pemkot Solo.
Kesediaan itu disampaikan salah satu dosen Fakultas Teknik UMS yang juga menjadi ketua tim riset Mobnas dari UMS, Bambang Waluyo ST MT. “Sampai sekarang saya belum tahu apakah UMS ditunjuk sebagai tim pendamping atau tidak. Tapi jika nantinya ditunjuk, UMS pasti bersedia,” jelasnya saat dihubungi Solopos.com, Jumat (2/3/2012).
Menurutnya penyebab tidak lolosnya Esemka pada uji emisi, mudah untuk diperbaiki. “Kekurangan itu tidak sulit diperbaiki,” ujarnya.(Sumber: www.harianjogja.com)